Sarung Tangan Juni 21, 2006
Posted by nggedabrus sontoloyo in Produk.trackback

Entah apa yang ada dipikiran produsen sarung tangan ini saat mewarnai produknya dengan warna cerah biru muda dan putih. Bukannya sarung tangan itu termasuk ornamen busana yang sifatnya heavy duty? Dibawa ngalor ngidul, melindungi kepalan tangan pengendara dari kotor debu dan sengatan matahari.
Warna cerah itu bagus untuk busana ibadah. Kalau ada yang kotor, kita bisa langsung tahu. Sedapat mungkin dibersihkan/dicuci, supaya ibadah jadi lebih sempurna. Warna cerah bagus juga untuk bayi. Mata si kecil akan cepat terangsang dengan warna-warna cerah.
Lebih dari semua itu, busana ibadah dan pakaian bayi biasanya dicuci sekali pakai.
Nah kalo sarung tangan? Apa mesti setiap kita pakai harus dicuci? Bisa sih bisa, tapi kan ya nggak feasible.
Ada pepatah jawa bilang : good guys don’t always wear white.
Jelas ada benarnya. Good guys suka membantu sesama, mestinya punya mobilitas tinggi. Jika beli sarung tangan, pake yang warna gelap. Tetep sama-sama ra mutu, namun warna gelap jelas lebih praktis.
Jadi jika anda buat produk, bikin konsep yang jelas. Seimbang antara fungsi dan estetika.
Mungkin kita memang butuh blog untuk menampung kekecewaan konsumen. Kita bisa curhat dan nggedabrus secara kekeluargaan supaya produk di pasar penuh dengan kolaborasi mutualisme antara produsen dan konsumen.
By the way, saya ndableg tetep pakai sarung tangan ini. Bukan cuma untuk melindungi tangan, tapi juga melindungi hati. Kalo sudah wilayah sentimentil, fungsi dan estetika memang sering ditabrak. Kemlinthi.
Atau mungkin pangsa pasar sarung tangan ini untuk orang-orang sentimentil?
Ra jelas.
harusnye sarung tangan ya sekali pake, kaya sarung manuk ya.
tapi keren model nya cak… kalo make serasa jadi kamen Raider… tapi sayang ukurannya kekecilan buat gue…
nggak feasible tapi fashionable. sinyo jangan macam2 ya, itu dagangan saya.
ya supaya rajin nyuci tho mas
di mana sih pabrik sarung tangan beradajd pengen ke sana? abis lucu