jump to navigation

Televisilah Berhala Sebenarnya, Bukan Rokok Juli 8, 2006

Posted by nggedabrus sontoloyo in Media, Produk, Umum.
trackback

Ya ya ya. Puisi Taufiq Ismail memang hebat. Buat anda yang ndak suka puisi, kira-kira intinya begini :

Merokok itu nggak sehat buat perokok dan orang sekitarnya. Titik. Period.

Cuma saya nggak suka dengan penggambaran rokok sebagai Tuhan. Menurut saya, berhala-berhala baru itu bukan rokok, tapi televisi.

Di setiap rumah ada televisi. Di kantor juga. Di post satpam. Di mana-mana.

Paling banter yang saya tonton cuma Metro. Lainnya kok yo ngono-ngono ae. Acaranya mesti seputar bentak-bentak, marah-marah, dan cinta-cintaan.

Saya tinggal pipis, si tipi masih marah-marah.
Saya tingal beli siomay, si tipi masih bentak-bentak.
Saya tinggal bersih-bersih kaca (duh, maklum saya ini cuma jongos, semua dihandle sendiri), si tipi masih cinta-cintaan.

The arch-nemesis of our society isn’t cigarettes. It is television.
Mr. Ismail, please consult Sirkit Syah for further detail yah.


Pembaca yang budiman, maaf kali ini saya agak reaktif.

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi pecandu rokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tidak merokok,

[Suka atau tidak suka televisi, anda tak bisa lepas dari televisi]

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

[Dimana-mana juga ada televisi]

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

[Tak terkecuali institusi pendidikan. Guru leyeh-leyeh di kantor liat televisi, sebelum mengajar di kelas. Duh]

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

[Ilusi kemewahan. Agar terlihat mewah, alat transportasi publik dipasangi televisi. Urusan keamanan dan kenyamanan itu belakangan]

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

[Apa yang seolah-olah harus ada disetiap rumah? Televisi!]

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

[Apalagi tempat-tempat ini]

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

[Gimana dengan efek iklan? Anda mau bersetubuh sedangkan istri anda merem membayangkan pria-pria iklan L-Men instead of menghadapi kenyataan bahwa badan dan dapur sang suami kurang nilai estetikanya?]

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

[Bayangkan sekeluarga duduk kumpul dengan tipi menyala. Tidak akan ada komunikasi. Yang ada, tipi menjadi semacam black hole buat kebersamaan. Ini bukan cuma menular, tapi mematikan. Before we know it, esensi keluarga diganti dengan nonton tipi bareng]

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

[Bahkan yang tidak suka nonton tipi pun kena imbasnya]

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

[Ruang tunggu ga ada tipinya? Hareee genneeeee?]

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

[Dan bukan cuma pabrik rokok yang jadi pemasok iklan tipi, ada pabrik kondom, obat kuat, obat nyamuk, obat nyamuk, bank, sampo, pompa air, dst dst]

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

[Tipi tidak mengenal goblok dan pinter. Yang ada hanya Punjabi-fans atau Bukan-Punjabi-fans]

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

[Lebih-lebih tipi. Kamuflasenya lebih dahsyat ketimbang rokok, tipi bilang liatlah kami untuk melek informasi]

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

[Dan dijeda muktamar, para ulama leyeh-leyeh nonton televisi sebelum sesi berikutnya]

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

[AC itu barang mewah. Tapi semiskin-miskinnya sebuah rumah, pasti ada televisinya. Ampun ya Gusti…. ]

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

[Mudharat rokok di tataran fisik. Mudharat tipi di tataran mental. Kalau mau mbenerin fisik, ya jangan lupakan mental. Itu baru namanya kaffah]

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

[coba ada televisi di zaman Rasulullah ]

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

[Tipi pasti haram. Pasti!]

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
[Korban televisi? Mungkin anda juga sudah terkena]
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

[Sudahlah, saya speechless]

Saya sendiri sudah berhenti merokok karen alasan pribadi. Tapi membaca puisi Pak Taufiq saya jadi risih juga.

Perokok itu bukan musuh. Mereka juga teman kita, saudara kita. Tidak semua perokok tidak toleran. Tidak semua perokok tidak ingin berhenti merokok. Tidak semua perokok merokok di kendaraan umum.

Yang musuh bersama, entah perokok atau bukan, adalah televisi.
Televisilah Latta Uzza jaman modern sebenar-benarnya.

Jangan salah kaprah.

Komentar»

1. johan - Juli 8, 2006

jumlah jam menonton tv katanya berbanding terbalik dengan tingkat kesuksesan seseorang .. heheheh

2. wong eslam - Juli 8, 2006

setuju! tv dan rokok sama2 haram!!

3. husein - Juli 9, 2006

siaran tv indonesia, lebih banyak mudaratnya

4. ipoul-bangsari - Juli 10, 2006

setuju! saya termasuk yang mengharamkan TV, dan tidak berniat membeli TV…

5. ryosaeba - Juli 10, 2006

selain metro saya jadinya juga nonton space toon

6. kemlinthi - Juli 11, 2006

Pesawat TV: kalo kadung nyala, susah padamnya.
Kecuali mati lampu atau siaran tamat.
Pesawat TV-nya tetap di tempat, penontonnya berganti.

Apa yang paling menarik dari TV? Siaran iklan yang cuma 15 dan 30 detik.

Saya lagi butuh stasiun TV yang hanya menayangkan iklan dengan spot standar, bukan acara yang tersponsori.

7. zam - Juli 13, 2006

untung di kosan saya ndak ada tipi..

kecuali buat nonton berita, saya ndak pernah numpang nonton tipi di kamar temen kosan..

soal rokok, saya juga ndak suka..😀

8. Lita - Juli 13, 2006

Salah ya salah. Ada yang lain (yang juga salah), tidak menjadikan yang duluan (ditemukan) menjadi ‘kurang’ salah.
Ya gitu deh. Ngerti kan maksudku😀

9. dedenf - Juli 14, 2006

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

[Tipi pasti haram. Pasti!]

Paling banter yang saya tonton cuma Metro. Lainnya kok yo ngono-ngono ae. Acaranya mesti seputar bentak-bentak, marah-marah, dan cinta-cintaan.

IMO, saya tidak ngerokok dan juga jarang menonton TV, dan menurut saya bukanlah TV-nya yang berhala, akan tetapi stasiun broadcasternya yang evil.

10. dedenf - Juli 14, 2006

haduh maaf, yang kedua blockqute-nya lupa di tutup😀, harusnya yang ketiga gak pake blockquote

11. Yus - Juli 27, 2006

Kalau saya saya tak suka acara TV, saya akan matikan TV-nya. Tapi kalau saya tak suka ada orang yang merokok didekat saya …. terus apa yang harus dilakukan, apakah terus-terusan menghindar?

12. zufar - Juli 28, 2006

kan sama-sama tau kalo ‘dua barang’ ntu banyak mudaratnya…so jauhin dua-duanya… bakal lebih bermanfaat kalo ajak orang jauhin juga….bapak2 yang budiman pemilik aset besar, dah waktunya kan broadcast tipi sendiri, nyang jauh dari maksiat, penggoda iman, dan pe-lalai ingat Tuhan…
“saatnya beraksi, jangan cuma banter bersaksi”

13. budi santoso - Juli 28, 2006

jangan beli tv beli rokok aja saya udah susah sekarang. Lha wong sumber keuangan satu-satunya dari ortu udah mulai diputus. Kosan aja numpang….duh tuhan tolong lah hamba di dunia yang serba kapitalis dan materialis

14. rontol - Juli 29, 2006

kabare kang ehehe…ak wong jowo jugak…
was mangan urong kabeh??? ayuh neng dapor…:p

15. koeaing! - Agustus 4, 2006

tetep minoem roko boeng , boekan tipih…..

16. bee - Desember 14, 2006

Ah… saya juga sangat benci sama rokok! Setiap kali ketemu rokok, saya bakar dan hisap sampe habis! Kalo udah habis, saya lumat sampe mampus! Dan kadang, kalo belum puas, saya injak2 sampe hancur! Saking bencinya saya pada rokok, saya rela buang duit untuk membeli rokok kemudian membakar dan menghancurkannnya! Saya ingin bumi ini bersih dari rokok!😀

17. bee - Desember 14, 2006

Tivi? Barang apa itu ya? Di rumahku gak ada Tivi, adanya cuman komputer jadul buat ngegame ama nonton filem. Apa komputer bisa jadi kandidat “Tuhan” selanjutnya?😛

18. S.Andriy - Maret 19, 2007

Haa pa kabar prend.di kamarku ada tv looh

19. upilnyempil - Maret 22, 2007

rasa-rasanya syair itu udah (relatif) lama deh dibuatnya. yang posting pertama kebetulan (senagaja?) ngepasin momen peringatan hari tanpa tembako sedunia (klo gak salah). Pak Taufik Ismail sendiri seingat saya pernah kasih komentar (atau pernah baca syairnya ya? ntar deh dicek lagi) tentang tipi yang senada ama Nggedabrus. tp sependapat jg kok, klo ada berhala baru (tp lama) yg mesti diwaspadai = tipi.
btw, syair itu kan karya sastra yg penilaian akhirnya emang terserah sama interpretasi msg2 orang, yg bahkan sang penyair gak bs nolak klo gak sama ama pikiran awalnya dia.
setiap masa akan selalu timbul berhala2 baru, tergantung dr cara pandang kita.
ah.. meracau lagi saya ini.

20. mpokb - April 12, 2007

kasian juga liat aki2, makan kagak napsu, baca kagak nyata lagi, nongton tipi kagak ngarti. hiburan satu2nya cuma ngudud… yah, aki2 bisa ditolerir lah.. menghindari tipi sih gampang. matiin aja.

21. Hauw - April 12, 2007

ga perlu terlalu ekstrem begitu…..

mungkin kalian terlalu berlebihan jika menggambarkan televisi adalah sesuatu yang menakutkan.

tidak bisa dipungkiri memang banyak acara di dalam televisi yang tidak mendidik, tetapi jangan lupa televisi adalah produk kecanggihan teknologi, dengan televisi juga kita bisa berkembang, kita bisa mengetahui dunia luar (bahkan lebih cepat dibandingkan dengan media cetak), dengan televisi juga kita dihibur saat kita lelah atau bosan.

sebaiknya kita jangan lagi punya pikiran yang seperti itu, kalau dipikir perkembangan teknologi memang menimbulkan dampak buruk di suatu sisi namun juga memberikan dampak positif di sisi yang lain. Pasti itu… Dunia semakin maju dan kita tidak mungkin menghindari teknologi, malah kita memerlukannya.

contoh sederhana : AC memang nyaman tetapi berapa banyak di antara kita yang mengetahui bahaya dari penggunaan AC? ya, freon AC ataupun lemari es atau dari spray aerosol, dari efek rumah kaca, pembakaran sampah,dll dapat menyebabkan penipisan pada lapisan ozon, lapisan yang melindungi kita dari bahaya sinar matahari langsung. sekarang saja bisa kita rasakan betapa panasnya udara saat ini dibandingkan 10 – 20 tahun yang lalu. ini disebabkan semakin menipisnya lapisan ozon dan lama2 kita semua akan berakhir jika lapisan ozon sampai berlubang.

tapi disini kita harus mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. jika kita tahu bahwa AC menimbulkan dampak yang buruk begitu, maka dengan bijaksana kita seharusnya menggunakan AC dengan seperlunya saja, saya pun pakai AC jika memang benar2 tidak tahan dengan panasnya udara saat sedang belajar, itupun saya timer agar tidak terlalu lama terbuka.

begitu juga dengan televisi. kalau tahu televisi mempunyai banyak program yang buruk mengapa harus ditonton, toh kita bisa saja menghindar.

sebenarnya kita sendiri yang mau diperalat oleh televisi dan rokok.

oh iya, aku ingin sedikit membenarkan pandangan kalian mengenai rokok, sebenarnya rokok dan televisi adalah sebuah hal yang sangat berbeda. sudah saya singgung di depan tadi bahwa televisi mempunyai sisi + dan -. Tetapi bagaimana halnya dengan rokok?apakah rokok mempunyai hal yang +? paman saya perokok berat pernah berkata “saya merasa lebih baik jika merokok ketika banyak masalah”. Mungkin itu benar tetapi itu hanyalah kesenangan yang semu yang sementara dan akan berakibat fatal bagi kesehatan seseorang yang memang belum terasa dalam waktu dekat ini, namun akan seperti bom waktu yang aktif dan berbagai penyakit akan keluar saat bom tersebut meledak. sebenarnya yang berhala itu yang mana? coba anda pikirkan….

terima kasih.

22. Bubut - Mei 12, 2007

yang nulis blog ini kan perokok, perokok kan egois, pastilah dengan berbagai macam cara mengeluarkan pembelaan yang kadang di pikir2 terlalu memaksakan, TV ama rokok? ya beda banget pakde, anak kecil saja tau, kalo TV kita gak suka acaranya ya matiin aja beres, kalo orang ngerokok deket kita? kalo kita gak suka ? di Matiin juga, bacok😀 kalo di samain ya kayak gitu, jadinya perokok yg deket2 kita ya di matiin aja disamain ama TV

23. Penasaran - Desember 14, 2007

Hidup udah susah kok dipersusah, udah nikmatin aja
Tipi emang bahaya buat perkembangan mental anak dan remaja dengan banyaknya acara yang vulgar, kata kata yang kasar, makian, bentakan, busana yang terbuka setengahnya, masih kecil dah belajar bercinta, yang kesemuanya mengajarkan kebiasaan yang buruk bagi perkembangan anak dan remaja
Klo buat yang dewasa, kan dah pada bisa mikir, tapi masih kalah ma napsunya, mikir sih mikir tapi tetep aja bertindaknya masih nurutin keinginan napsunya.
Masalah rokok, klo gak suka ada orang merokok dekat kita tinggal bilang, maaf apa bisa matiin rokok or dianya diminta pergi
Klo masalah zat kimia berbahaya, di rokok katanya ada 4000 jenis, literatur dari mana? Bukankah dalam tubuh manusia pun zat kimia alaminya juga banyak, cari sendiri literaturnya klo emang penasaran.
Patut diketahui, air pun zat kiimia juga kan dengan rumus kimia H2O

24. Shelly - Maret 25, 2008

Hi,
saya mau minta izin kutip cring-an ini di milis IACSTF (Aceh Civil Society Task Force), boleh yah?
biar temen2 saya punya perspektif lain baca puisinya TI..
saya akan tulis link ke blog ini juga🙂

25. [simukatebal] - April 24, 2008

sorry, saya kontra dengan pendapat anda ttg TV…
masalah TV itu merugikan itu sangat tidak benar, tergantung kepada pribadi masing masing…TV justru sebagai salah satu media yang menyampaikan informasi tentang keadaan dunia…yg menganggap TV itu haram berarti orang itu justru tidak dapat memilih acara yang tepat…kalo nontonya gosip ama sinetron terus ya ga maju..salah siapa? ya salah yang nonton lah,,bukan salah TV nya…bayangin kalo TV diharamkan,anda bisa dapat berita dari mana yang cepat dan aktual??
kalo masalah acara buat anak anak itu adalah tanggung jawab anda sebagai orang tua untuk menyaring acara yang boleh ditonton oleh anak anak…TV sebagai blackhole justru membuat keluarga semakin dekat karena bisa ngumpul bareng..bayangin kalo anak2 cuma main di kamar, istri masak di dapur, suami ngurusin kerja terus??kalo gitu kapan ngumpul bareng keluarga nya???
lain hal dengan rokok…rokok itu ga ada untungnya…udah bakar duit, bikin penyakit, polusi, bikin orang lain sengsara pula…
tolong anda renungkan dulu pendapat saya ini..trims

26. mowel - Mei 27, 2008

kayakkk nya,,org bodohh yg bilang klo TV g bermanfaat…

27. Herlina - Juli 1, 2008

TENTU SAJA ROKOK ITU RACUN!!!!! GAK ADA BAGUS BAGUS NYA MEROKOK.

28. chairiel - Juli 31, 2008

rokok adalah teman kesepian, tanpa rokok akan membuat kita bingung karena bisa mengantar kita kemana saja.biarpun racun,rokok tetap teman setiap manusia.hehehe.mantrap

29. wahyu - September 21, 2008

hehe susah lawan egonya orang merokok, bahkan seorang teman yg kerja di LSM yg menyuarakan kesehatan lingkungan, global warming dan masalah2 lingkungan yang lain, kalo di peringatkan masalah rokok yg dia hisap setiap saat jawabnya seenaknya aja katanya ga ngaruh😀, bagiku sih ironis aja, dia bikin flyer2 mengkampanyekan udara segar yang sehat tp kelakuan sendiri seperti itu. ya aku anggap memang rokok adalah Tuhan sebenarnya perokok2 itu, akan di bela habis2 an sampe titik darah penghabisan bagi penghisapnya🙂

30. dezinfectant - Oktober 27, 2008

saya gak punya tipi di kamar kost
tapi ada internet…
~_~
ya idup2 aja

31. farikhsaba - April 7, 2010

Yang dimaksud tuhan atau istilah kerennya disebut thaghut itu adalah sesembahan-sesembahan selain Allah. dan arti menyembah itu diantaranya adalah taat, menuruti, mengikuti, mengagung-agungkan.
karenanya, yang dinamakan thaghut itu bisa apa saja, bisa orang, benda-benda (termasuk rokok), ataupun setan itu sendiri. Bahkan ilmu, juga nafsu bisa menjadi thagut..
Wallahu a’lam..

Thanks for sharing…

32. Keira - September 14, 2016

I think that what you typed was very logical. However, what about this?
suppose you were to create a awesome title?

I mean, I don’t want to tell you how to run your blog, however what if
you added a post title to maybe get a person’s attention? I mean Televisilah Berhala
Sebenarnya, Bukan Rokok | Nggedabrus is a little plain. You ought to peek at Yahoo’s front page and see how they write article headlines to get viewers to click.
You might add a related video or a related picture or
two to get readers interested about everything’ve written. Just my opinion, it
might bring your blog a little livelier.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: